Dalam penyusunan Harga Perkiraan Sendiri (HPS), banyak orang berfokus pada harga barang, harga material, komponen teknis, atau biaya tenaga kerja. Namun ada satu faktor yang sering dianggap sepele tetapi sebenarnya memiliki dampak yang sangat besar terhadap nilai akhir HPS, yaitu jarak. Jarak dalam konteks pengadaan konstruksi maupun pengadaan barang bukan sekadar angka dalam kilometer. Ia adalah salah satu unsur biaya yang secara langsung mempengaruhi biaya transportasi, biaya logistik, waktu pengiriman, risiko kerusakan, hingga ketersediaan material di suatu lokasi. Bagi auditor, jarak adalah salah satu variabel yang sangat mudah diverifikasi. Karena itu, kesalahan dalam memperhitungkan jarak bisa langsung terlihat sebagai temuan perencanaan yang lemah.
Pengaruh jarak terhadap HPS berlaku untuk hampir semua jenis pengadaan. Dalam pekerjaan konstruksi, jarak menentukan biaya pengiriman material, biaya pergerakan alat berat, biaya mobilisasi tenaga kerja, serta biaya transport harian. Dalam pengadaan barang, jarak mempengaruhi ongkos kirim, biaya distribusi, dan risiko pengiriman. Dalam pengadaan jasa, jarak dapat mempengaruhi biaya operasional tenaga ahli. Ketika jarak diperhitungkan dengan benar, HPS menjadi lebih wajar dan realistis. Tetapi ketika jarak diabaikan atau dihitung secara asal, maka keseluruhan perhitungan biaya menjadi tidak akurat dan mudah dipertanyakan.
Banyak instansi menghitung HPS dengan cara sederhana: mengambil harga barang dari e-katalog atau survei toko terdekat, kemudian menambahkan sedikit biaya pengiriman. Padahal, dalam banyak kasus, biaya transportasi bukan hal kecil. Ada material tertentu yang membutuhkan kendaraan besar atau khusus, yang berarti biayanya tidak linear terhadap jarak. Ada pula daerah terpencil yang akses jalannya sulit, sehingga biaya pengiriman menjadi jauh lebih mahal dibandingkan daerah perkotaan. Namun instansi sering kali menggunakan pendekatan “rata-rata” tanpa mempertimbangkan karakteristik wilayah. Auditor dengan mudah mencatat temuan seperti ini karena mereka dapat membandingkan perhitungan instansi dengan kondisi nyata di lapangan.
Jarak juga memengaruhi HPS melalui faktor mobilisasi. Dalam proyek konstruksi, mobilisasi alat berat adalah salah satu komponen biaya terbesar, terutama jika jarak proyek dari basecamp atau gudang penyedia cukup jauh. Mobilisasi excavator, dump truck, atau crane membutuhkan biaya besar karena alat tersebut tidak dapat dikirim seperti barang biasa. Mereka membutuhkan trailer, BBM yang tinggi, dan pengawalan untuk perjalanan tertentu. Semakin jauh jarak lokasi proyek dari pusat kota atau depot penyedia alat, semakin besar biaya mobilisasi. Jika penyusun HPS tidak mempertimbangkan hal ini, nilai HPS akan jauh lebih rendah dari nilai penawaran penyedia. Konsekuensinya, penyedia akan menawar lebih tinggi, dan auditor akan mempertanyakan mengapa HPS tidak sesuai dengan kondisi lapangan.
Pengaruh jarak tidak hanya terjadi pada alat berat, tetapi juga pada mobilisasi tenaga kerja. Dalam proyek yang jauh dari kota atau terletak di daerah terpencil, penyedia biasanya harus menyediakan biaya transportasi rutin, biaya penginapan, dan biaya makan tambahan bagi tenaga kerja. Hal ini sebenarnya harus masuk dalam perhitungan HPS karena mempengaruhi total biaya pekerjaan. Namun banyak instansi yang menggunakan pendekatan standar tanpa mempertimbangkan lokasi proyek. Akibatnya, ketika penyedia memasukkan biaya tambahan mobilisasi tenaga kerja, perbedaan antara HPS dan penawaran menjadi signifikan. Auditor biasanya memperhatikan hal ini dengan seksama.
Selain mobilisasi, jarak juga menentukan seberapa besar biaya logistik yang dibutuhkan untuk mengangkut material. Material seperti pasir, batu, semen, baja, dan kayu berasal dari lokasi berbeda-beda. Dalam beberapa proyek, material tidak tersedia di sekitar lokasi sehingga harus didatangkan dari daerah lain. Banyak auditor menemukan bahwa HPS tidak memperhitungkan asal material secara benar. Misalnya, ketika proyek konstruksi membutuhkan batu belah tetapi lokasi proyek berada jauh dari quarry (lokasi tambang batu). Jika penyusun HPS hanya menggunakan harga batu dari kota besar tanpa memperhitungkan biaya transportasi ke lokasi proyek, maka HPS akan jauh lebih rendah dari kenyataan.
Dalam pengadaan barang, jarak memengaruhi biaya pengiriman yang sering kali tidak linear. Pengiriman barang kecil seperti laptop mungkin relatif mudah, tetapi barang besar seperti lemari besi, brankas, atau perangkat server memiliki biaya pengiriman berbeda. Dalam pengadaan alat kesehatan, misalnya, banyak alat yang sensitif terhadap guncangan atau membutuhkan pengiriman khusus. Semakin jauh lokasi instansi dari penyedia, semakin tinggi biaya pengiriman dan semakin besar risiko kerusakan. Jika instansi mengabaikan hal ini, HPS menjadi tidak realistis. Auditor bahkan sering memeriksa bukti pengiriman untuk melihat apakah biaya yang ditagihkan sejalan dengan jarak.
Pengaruh jarak juga sangat terasa pada proyek yang berada di daerah kepulauan. Di beberapa wilayah Indonesia, material harus dikirim melalui laut, menggunakan kapal kecil, atau bahkan harus diangkut secara manual melalui dermaga kecil. Biaya seperti ini jauh lebih mahal dibandingkan pengiriman melalui darat. Penyusun HPS sering kali tidak memahami kondisi lapangan secara detail sehingga menggunakan harga acuan dari daratan. Ketika penyedia memberikan penawaran dengan biaya logistik yang besar, instansi bingung mengapa penawaran tidak sesuai HPS. Auditor biasanya langsung menemukan ketidaksesuaian antara perkiraan penyusun HPS dengan kondisi geografis proyek.
Dalam pekerjaan jalan atau jembatan, jarak memengaruhi volume perjalanan alat berat dan volume angkutan material. Jarak juga menentukan jumlah BBM yang dibutuhkan oleh alat berat selama proses pengerjaan. BBM merupakan komponen besar dalam pekerjaan konstruksi. Alat berat seperti excavator, bulldozer, dan dump truck memiliki konsumsi BBM yang sangat tinggi. Ketika lokasi proyek jauh dari sumber BBM atau berada di daerah sulit, biaya ini meningkat drastis. Jika HPS tidak memperhitungkan jarak tempuh alat atau kendaraan pengangkut material, maka biaya yang tertulis dalam dokumen tidak mencerminkan kebutuhan nyata.
Selain itu, jarak mempengaruhi tingkat risiko. Semakin jauh lokasi proyek, semakin tinggi kemungkinan terjadinya kerusakan material, keterlambatan pengiriman, atau hambatan akses. Risiko ini biasanya diantisipasi penyedia dengan memasukkan biaya tambahan dalam penawaran. Penyusun HPS seharusnya memasukkan komponen risiko ini dalam batas kewajaran. Namun jika risiko diabaikan, auditor dapat menilai HPS terlalu rendah dan tidak dapat dipertanggungjawabkan secara teknis.
Dalam proyek konstruksi bangunan, jarak antar lantai atau jarak antar titik kerja juga dapat mempengaruhi biaya. Misalnya pada pembangunan gedung bertingkat, pengangkutan material ke lantai atas membutuhkan tenaga dan peralatan khusus. Lift material harus digunakan dan biayanya berbeda dengan pengangkutan di lantai dasar. Banyak auditor menemukan ketidaksesuaian biaya pekerjaan karena penyusun HPS tidak memperhitungkan jarak vertikal ini.
Jarak juga berpengaruh terhadap waktu. Semakin jauh lokasi, semakin banyak waktu yang dibutuhkan untuk pengiriman material dan pergerakan tenaga kerja. Waktu adalah biaya dalam konstruksi. Keterlambatan karena jarak akan membuat biaya overhead penyedia meningkat. Biaya ini sebenarnya harus tercermin dalam HPS. Namun banyak instansi tetap menggunakan perhitungan “normal” tanpa menyesuaikan konteks lokasi. Auditor biasanya membandingkan HPS instansi dengan standar pasar untuk wilayah setempat dan menilai apakah perhitungan waktu dan jarak sudah tepat.
Pengaruh jarak juga terasa dalam pengadaan yang berbasis pasokan rutin, seperti ATK, bahan kebersihan, atau bahan operasional. Banyak pengadaan menggunakan metode kontrak payung atau pengadaan berulang. Dalam kondisi seperti ini, jarak antara penyedia dan instansi sangat menentukan efisiensi. Jika lokasi penyedia terlalu jauh, biaya distribusi menjadi tinggi dan waktu pengiriman menjadi lama. HPS harus mencerminkan realitas ini agar persaingan penyedia tetap adil dan sesuai kebutuhan. Auditor biasanya mengevaluasi apakah jarak penyedia dalam dokumen pengadaan mempengaruhi efisiensi pelaksanaan kontrak.
Ketika jarak diabaikan dalam penyusunan HPS, konsekuensinya bisa sangat serius. Harga yang terlalu rendah menyebabkan penyedia kesulitan mengerjakan kontrak dengan baik dan pada akhirnya memungkinkan terjadinya perubahan kontrak atau penurunan kualitas pekerjaan. Auditor akan memberikan temuan karena nilai kontrak dianggap tidak mencerminkan kebutuhan riil. Hal ini dapat berujung pada rekomendasi pengembalian ke kas negara atau bahkan masalah hukum. Di sisi lain, jika jarak dihitung terlalu tinggi tanpa dasar teknis, auditor dapat mencatat indikasi pemborosan.
Untuk menghindari kesalahan dalam perhitungan HPS, jarak harus dihitung secara objektif dan berdasarkan data lapangan. Perencana harus mencatat lokasi pengambilan material, lokasi pemasangan material, dan rute yang digunakan. Kondisi jalan, jenis kendaraan, dan kebutuhan alat juga harus diperhitungkan. Penyusun HPS harus memastikan bahwa seluruh komponen biaya transport masuk dalam perhitungan. Jika data jarak berasal dari sumber online, harus ada pengukuran ulang atau konfirmasi melalui survei lapangan. Auditor biasanya memeriksa konsistensi antara dokumen, foto lapangan, dan peta rute. Selama perhitungan dilakukan berdasarkan data valid, HPS akan dianggap wajar.
Pada akhirnya, jarak adalah salah satu faktor paling penting dalam penyusunan HPS, tetapi sering kali terlupakan. Padahal jarak menentukan biaya material, mobilisasi alat, mobilisasi tenaga kerja, waktu pelaksanaan, risiko pekerjaan, dan nilai akhir penawaran. Ketelitian dalam memperhitungkan jarak mencerminkan kualitas perencanaan. Auditor sangat menghargai dokumen HPS yang memperhitungkan jarak secara rinci dan objektif.
Dalam dunia konstruksi dan pengadaan barang, jarak bukan hanya angka di peta, tetapi salah satu faktor biaya terbesar. Ketika jarak dihitung dengan benar, HPS menjadi akurat, penyedia dapat bekerja dengan efisien, dan negara terhindar dari kerugian.



